Saya Muslim Yang Paling Menderita, Kamu Juga.

2 September 2009
Saya seorang muslim. Entah itu karena KTP atau karena warisan kesejarahan saya, yang jelas saya seorang muslim. Dan mohon dimaklumi kalau saya merasa bangga menjadi seorang muslim. Orang tua saya tentu juga merasa bangga karena saya mengaku muslim meskipun pernah ada suatu masa dimana mereka sudah hampir putus asa mengingatkan kemusliman saya.

Secara sadar, selaku seorang muslim saya pernah mengalami juga situasi yang menuntun saya menjadi demikian peka dengan isu-isu menjelang bulan puasa. Wajarnya, ketika sedang peka, biasanya saya mencari pembenaran atas apa yang tengah melintas di benang kepekaan saya. Misalnya saja begini. Ramadhan tahun lalu, maki saya tumpah sesaat sebelum berbuka puasa gara-gara listrik dipadamkan beberapa menit menjelang bedug maghrib. Sebagai manusia “Endonesia” tentu saja saya keberatan. Ini sudah masuk kategori perbuatan tidak menyenangkan kan? Nah sebagai muslim yang tengah berpuasa, saya lebih keberatan lagi. Saya marah. Saya dongkol. Ini termasuk pelecehan kegiatan ibadah saya dong. Siapa yang nyaman berbuka puasa tidak dalam keadaan terang bercahaya?. Itu tadi. Tumpahlah makian saya. Negara hanya bisa menjamin hal yang besar-besar saja. Bisa menjamin harga beras dan gula stabil tetapi tak bisa menjamin saya berbuka puasa dalam gelimang cahaya listrik. Saya jadi merasa sebagai muslim yang paling menderita.

Tapi itu dulu. Sekarang saya sudah sadar itu kurang baik, setelah banyak yang menasehati saya dengan macam-macam cara. Saya pikir, sekali-sekali asyik juga berbuka puasa dalam remang-remang cahaya. Keluarga saya jadi kelihatan lebih cantik dan indah dari biasanya. Sungguh romantis. Duri ikan nancap di jaripun jadi nggak terasa sakit lagi.

Saya menulis begini karena barusan saya melihat berita. Sekelompok warga datang beramai-ramai ke sebuah tempat. Bukan untuk berwisata atau berziarah jelang puasa, tapi untuk mengamuk menghancurkan dan membakar rumah-rumah warga yang bermerek lokalisasi. Selain bermuka marah ada juga beberapa yang saya lihat memasang tampang suka ria. “Kunjungan silaturahmi” mereka ini atas nama “menjelang puasa”.

Saya tentu tak bisa menyalahkan. Barangkali begitu juga dengan polisi yang tidak melakukan apa-apa di tempat kejadian. Tapi sumpah, saya sungguh keberatan. Diantara sekian PSK disana pasti ada juga yang muslim. Entah muslim karena KTPnya atau karena warisan kesejarahannya, seperti saya juga. Saya sih bukan bermaksud apa-apa. Hanya saja, kalau rumahnya dibakar begitu, besok mereka mau berbuka puasa dimana? Wah nggak beres juga itu orang-orang. Saya jadi nggak lagi merasa sebagai yang paling menderita kan jadinya?.

Menjelang bulan puasa begini biasanya memang kita jadi lebih peka. Atau bisa juga kita memilih untuk menjadi lebih peka. Saya juga memilih menjadi lebih peka. Lebih peka pada badan saya saja. Saya takut sakit. Nanti malah nggak bisa menikmati puasa. Tapi saya malas kalau disuruh memilih menyakiti. Nanti orang nggak bisa puasa karena saya. Kasihan ulama dong. Mulut sudah berbusa menghimbau supaya kita puasa malah nggak diikutin. Kalau nanti mereka ngambek dan berhenti jadi ulama bisa lain lagi ceritanya. Ah, semoga mereka nggak memilih membentuk band baru. Udah terlalu banyak band dengan lagu yang nyaris sama soalnya.

Tadi di masjid, Sang Khatib membacakan ayat andalan bulan ramadhan.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”
Bah, ternyata cuma wajib bagi yang beriman ya? ternyata beriman dulu, barulah berwajib. Yakin dulu, barulah berbuat. Begitu ya? Lalu yang belum beriman, bagaimana? jadi nggak wajib dong ya? Ah, enak sekali mereka. Iya. Tapi tadi seorang teman saya yang bukan muslim dan tidak mau mengaku-aku muslim menyampaikan ucapan selamat berpuasa kepada saya. Lha, ini bagaimana? Berarti dia yakin pada yang namanya puasa. Dia beriman.

Tentu dia beriman. Beriman pada keyakinannya akan persaudaraan. Saya saja belum sampai kesana ilmunya. Saya bicara soal lapar dan haus. Dia sudah bicara soal persaudaraan.

Saya sempat menulis SMS begini pada beberapa teman. menjelang ramadhan, gimana kalau kita bakar lokalisasi?.
Lalu ada yang menjawab begini. janganlah, kita bakar saja syetan-syetan yang melokalisasi hatimu
Saya tersenyum sesaat membaca jawabannya. Teman-teman saya memang mirip ustadz. Serius, saya cuma tersenyum sesaat. Karena pas baca SMS itu sambil senyum sendiri, Istri saya lewat dan langsung bertanya : hayo, baca sms siapa sambil senyum-senyum??? hahahaha….***


Aku Ingin Menulis Puisi Saja

2 September 2009

Aku ingin menulis puisi saja
Tidak mau karena dalam rangka
Tak mau karena suka aliran mana

Aku ingin menulis puisi saja
Tidak karena jatuh cinta
Tidak juga karena rindu menggenang di dada
Tidak. Tidak mau karena hatiku sedang luka

Aku ingin menulis puisi saja
Tidak karena hendak berlomba
Tidak pula karena diminta

Aku ingin menulis puisi saja
Tidak karena Tuhan
Tidak karena Segala Maha
Tidak. Takkan cukup kata

Aku ingin menulis puisi saja
Tidak juga karena kata

Hanya ingin menulis saja
Setelah Iqra’ nancap di jiwa!


Bukan Main Resahnya Mimin

21 Agustus 2009

Seminggu setelah melahirkan anaknya yang pertama. Keluarlah kalimat itu.
“Aku nggak mau melahirkan lagi!. Sakit banget tau!”. Setengah berteriak Mimin menegaskan keinginannya. Umar hanya tersenyum saat itu. Ia tahu. Pasti istrinya masih trauma pasca kelahiran pertama. Wajarlah itu. Siapa perempuan yang tak merasa kesakitan ketika melahirkan?. Umar yakin suatu waktu nanti istrinya pasti akan merindukan lagi detik-detik menegangkan dari proses sebuah kelahiran. Meski sakit luar biasa, bukankah disitu letak penegasan keperempuanan?.
Tetapi ternyata tidak. Detik-detik itu nampaknya tak akan terjadi lagi. Tadi malam Mimin mengulang lagi kalimatnya dulu itu. Ia bilang tidak mau hamil lagi karena nanti ia harus melahirkan lagi dan menerima rasa sakit yang sama lagi. Benar-benar gawat. Padahal ini sudah tahun ke tujuh sejak kalimat itu diucapkannya pertama kali.

“Kamu cuma merasakan enaknya, aku yang merasakan sakitnya!” bantah Mimin waktu Umar mencoba meyakinkannya.
“Masak sih sampai sekarang kamu masih trauma?“
“Bukan trauma tapi jera. Tobat!”
“Lho, semua perempuan kan merasakan sakit yang sama?”
“Ih, kok tega sih sama istri? Tiap perempuan kan beda daya tahannya?”
“Dulu kita kan udah sepakat pengen punya anak tiga”
“Ya itu dulu waktu masih pacaran! Sekarang nggak! Nggak mau!”
“Lho, trus gimana?”
“Gimana apanya?”
“Gimana caranya supaya nggak sakit?”
“Ya nggak usah melahirkan!”
“Ha? Busyet, aku kan pengen punya anak lagi”.
Umar melongo. Bibirnya tanpa sengaja membentuk lingkaran seperti huruf O. keningnya berkerut. Alisnya merapat, hampir menyatu. Mimin tak peduli. Ia ngeloyor pergi. Duduk di depan tv.

Umar jadi ingin tahu, sesakit apa rasanya melahirkan itu sampai-sampai istrinya berkeras tidak mau melahirkan lagi. Esoknya ia pergi ke rumah Ustadz Marzuki. Ini pilihan yang baik menurutnya. Ustadz Marzuki pandai agama, tentu akan lebih objektif menyikapi persoalannya ini. Selain itu, ia tentu akan lebih jujur memberi jawaban. Bukankah seorang Ustadz tak boleh berbohong?. Apalagi ia sudah punya delapan anak dari ketiga istrinya.
“Mas Umar, melahirkan itu sama dengan mempertaruhkan nyawa bagi seorang perempuan. Jadi ya wajarlah kalau diantara mereka ada yang punya ketakutan berlebihan seperti istri Mas Umar itu” begitu kata Ustadz Marzuki.
“Harus lebih sabar menghadapi istrinya ya Mas. Harus pelan-pelan menanamkan kesadaran untuk perkara ini” lanjut Ustadz Marzuki. Wah, nasehat Ustadz Marzuki belum merupakan sebuah solusi bagi Umar. Terlalu umum. Standart banget. Sahabatnya, si Rusli mungkin punya pendapat yang lebih tegas.
“Gampar aja Mar! perempuan yang menolak kewajiban itu boleh digampar” kata Rusli berapi-api.
“Wah, mana tega aku Rus”
“Nah itulah kamu. Banyakan nggak teganya sih. Kalau aku, uh udah selesai tuh!”
“Ha? Kamu apain? Bunuh?”
“Pecat jadi istri!”
“Dicerai maksudnya?”
“Ya kalau dia mau begitu”
“Kalau nggak mau?”
“Ya cari lagi”
“Cari apa?”
“Bini”
“Kawin lagi?”
“Iyalah”
“Emang berani?”
“Insya Allah”
Umar berpikir keras. Apa iya harus sampai segitu ya?.

Dan Tuhan ternyata lain pula maunya. Tiga bulan setengah setelah pembicaraan dengan Rusli, Mimin hamil. Bukan main senangnya Umar. Bukan main resahnya Mimin. Sudah terbayang rasa sakitnya nanti kalau tiba waktunya persalinan. Marah sekali ia pada Umar. Marah pula ia pada dirinya sendiri. Kenapa bisa sampai hamil lagi.
Cerita punya cerita. Sudah sembilan bulan usia kandungan Mimin. Beberapa hari lagi tentulah si jabang bayi akan lahir. Umar telah menyiapkan segala sesuatunya. Ia sudah membeli beberapa perlengkapan bayi. Sementara itu Mimin masih saja didera ketakutan yang sangat. Tidak sanggup ia mengalami kembali rasa sakit seperti dulu waktu melahirkan anaknya yang pertama. Sampai sekarangpun ia masih marah dengan Umar. Marah saja. Ia juga tak tahu alasan apa yang membuatnya harus terus marah dengan suaminya. Ia hanya ingin marah saja. Tanpa alasan. Pokoknya marah saja. Apa salahnya orang marah tanpa alasan? Dan Umar berusaha tetap sabar menghadapinya meskipun ia juga bingung harus bagaimana. Harus melakukan apa. Kalau saja bisa ingin sekali rasa sakit melahirkan itu ditanggungnya. Asal anaknya bisa lahir dengan selamat. Asal istrinya tidak mengeluh ketakutan oleh rasa sakit. Umar pun telah menghubungi seorang Bidan sejak jauh hari agar semua proses kelahiran anaknya nanti lancar.
“Dan kalau bisa, bagaimana caranya biar istri saya tidak merasa sakit Bu Bidan” ujar Umar dengan nada sangat berharap.
“Itu tidak mungkin Dik Umar. Belum ada satu carapun didunia ini yang bisa menghilangkan rasa sakit ketika melahirkan, kecuali kalau Dik Umar menyuruh istrinya operasi” begitulah kata Bidan yang murah senyum itu.
“Wah mana mungkin itu Bu Bidan. Biaya dari mana?”
“Yah cuma begitu caranya supaya istri Dik Umar tidak kesakitan”. Bu Bidan itu senyum lagi. Mungkin sudah jadi kebiasaannya tersenyum pada pasien. Kalau tidak, mana mungkin ia bisa tersenyum sebaik itu. Sesuatu yang baik memang harus dibiasakan.

Kandungan Mimin tinggal menunggu hari. Mimin semakin tegang dan khawatir. Tentu saja Umar lebih tegang dan khawatir. Ia khawatir dengan keselamatan bayinya. Ia juga khawatir dengan kekhawatiran istrinya. Sampai sesuatu terjadi. Satu malam sebelum Mimin seharusnya melahirkan. Sesosok setan datang hendak mengambil anak dalam kandungannya.
“Aku bisa menghapus rasa sakitmu” begitulah kata si setan pada Mimin.
“Kamu siapa?” tanya Mimin mulai ketakutan.
“Aku setan penolongmu” kata sosok itu. Meski setengah tak percaya Mimin tetap saja makin ketakutan. Gila, mana ada setan suka menolong. Kalau suka menolong namanya pasti bukan setan. Entah apa. Yang jelas pasti makhluk baik-baik. Lagipula sosok ini terlalu bagus untuk disebut setan. Badannya tidak terlalu tinggi. Kulitnya putih bersih dengan balutan jas hitam dan kaos putih didalamnya. Sepatunya juga terlihat sangat mengkilap, seperti sepatu orang kantoran. Meski bentuk bibir dan hidungnya agak unik, tapi wajahnya jauh lebih tampan dari setan yang biasa ia lihat di film Indonesia. Mimin jadi ingat seorang penyanyi pop kelas dunia yang baru saja meninggal.

Tiba-tiba sosok itu tertawa keras. Mimin kaget bukan main. Jantungnya berdetak lebih cepat kini. Sosok itu seperti bisa membaca pikirannya. Tubuhnya perlahan-lahan naik ke udara, seperti terbang. Kemudian sambil terus tertawa sosoknya perlahan berubah wujud menjadi seorang perempuan muda berpakaian warna-warni. Mirip penyanyi reggae. Lingkaran matanya hitam sekali. Sorotnya serasa hendak melumat mata Mimin. Sosok itu kini makin mendekat kearah Mimin.
“Kita bikin perjanjian saja. Aku akan bantu menghilangkan rasa sakitmu saat melahirkan. Tapi aku minta imbalan” lanjut sosok itu lagi. Ha, imbalan? Kenapa setan malah ngomongin imbalan? Kayak bisnis saja. Mimin makin keras berpikir ditengah ketakutannya. Ia melirik ke segala arah. Mencari-cari Umar suaminya. Tentu saja Umar tak ada. Malam itu Umar sedang kerumah Ustadz Marzuki untuk meminta air doa agar persalinan istrinya lancar. Hanya Mimin sendirian yang ada dirumah.
“Setelah kutolong kau melahirkan tanpa rasa sakit, aku minta anakmu untuk kubawa” kata sosok itu lagi. Kali ini ia sudah sangat dekat dihadapan Mimin. Tanpa sadar, Mimin memegangi perutnya. Naluri keibuannya bergerak memberikan perlindungan. Dengan tenaga yang tersisa ia bergerak mundur dan mencari-cari jalan agar bisa lari dari sosok itu. Apapun yang terjadi ia harus lari. Tidak peduli seberat apapun beban di perutnya saat ini. Sosok itu rupanya tahu apa yang hendak dilakukan Mimin. Ia bergerak makin cepat mendekati Mimin. Tangannya mulai terayun untuk meraih tubuh Mimin. Mimin yang sudah sangat panik kini menangis sambil terus berusaha mendekati pintu rumahnya. Begitu dapat sedikit celah, segera ia berlari kencang menuju pintu. Entahlah. Mungkin karena ketakutan dan semangat mempertahankan diri yang begitu kuat ia bisa menggapai pintu rumahnya dengan cepat. Sosok setan itu juga terus mengejarnya dengan cepat. Wajahnya memerah dan nampak sangat marah.
“Tolong! Tolong!…” Mimin berteriak sambil terus berlari. Ia sudah berhasil membuka pintu lantas langsung berlari sekuat tenaganya keluar rumah. Ia harus minta tolong pada seseorang diluar sana. Sosok setan itu masih saja mengejarnya. Bahkan kini dengan gerakan yang lebih cepat.
“Bu Bidan….tolong akuuu…tolooooooonngg….” ***

Tenggarong, 20 Juli 2009.

Diterbitkan Harian KoranKaltim Edisi Minggu 26 Juli 2009